PENTINGNYA MENGASAH KECERDASAN EMOSIONAL ANAK

Desember 27, 2010 zunlynadia

Kecerdasan emosional atau emotional intelligence adalah kecerdasan dalam mengungkapkan perasaan, kesadaran serta pemahaman tentang emosi dan kemampuan untuk mengatur dan mengendalikannya. Kecerdasan emosi dapat juga diartikan sebagai kemampuan Mental yang membantu kita mengendalikan dan memahami perasaan-perasaan kita dan orang lain yang menuntun kepada kemampuan untuk mengatur perasaan-perasaan tersebut[1].

Istilah kecerdasan emosional pertama kali di lontarkan pada tahun 1990 oleh seorang psikolog dari Amerika Peters Salovey untuk menerangkan kualitas emosi yang sangat penting bagi keberhasilan. Kualitas emosi ini antara lain adalah empati (kepedulian), mengungkapkan dan memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, kecerdasan untuk menyesuaikan diri, kemampuan memecahkan masalah antar pribadi, kesetiakawanan, keramahan, ketekunan dan sikap hormat[2].

Berbagai persoalan sosial yang terjadi baik di kalangan remaja maupun masyarakat secara luas, mengindikasikan adanya krisis dalam mengelola kecerdasan emosional yang sebenarnya ada pada setiap individu. Kecerdasan emosional menjadi faktor yang sangat penting dan berpengaruh pada kesuksesan seseorang. Untuk itulah kecerdasan emosional perlu di pupuk sejak dini.

Berbeda dengan Intellectual intelligence, kecerdasan emosional ini tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan. Selain itu tidak ada standar test EQ yang resmi dan baku. Akan tetapi kecerdasan Emosi dapat ditingkatkan, baik terukur maupun tidak dan dampaknya dapat dirasakan baik oleh diri sendiri maupun orang lain[3].

Usia balita dan anak-anak adalah usia emas dimana otak berkembang dengan pesat. Di usia inilah penting di tanamkan dan diajarkan berbagai hal terkait dengan kecerdasan emosional melalui pembiasaan-pembiasaan yang baik serta menciptakan lingkungan yang kondusif terutama lingkungan di dalam keluarga.

Perkembangan yang sedemikian cepat dan pesat menuntut kondisi masyarakat saat ini juga serba cepat dan instant. Hal ini semakin membuat para orang tua juga semakin sibuk dan tidak banyak meluangkan waktu untuk bermain bersama anak. Keluarga tidak lagi menjadi tempat belajar dan bermain dengan hangat. Peran pengasuh anak menjadi begitu penting dalam keluarga. Kondisi seperti ini sangat berpengaruh terhadap proses pendidikan anak terutama dalam mengasah kecerdasan emosionalnya. Karena pendidikan pertama yang sangat berpengaruh terhadap proses kehidupan anak dimasa mendatang adalah keluarga.

Mengasah emosional anak juga merupakan pendidikan moral bagi anak.  Pendidikan moral dan emosional bisa diasah dari usia dini bahkan sejak masih bayi. Ada beberapa pondasi moral dan emosional yang dapat di bangun oleh para orang tua sejak anaknya masih bayi, yakni[4]:

  1. Kelekatan psikologis antara orang tua dan anak.

Kelekatan ini akan membentuk kepercayaan anak kepada orang lain, merasa diri di perhatikan dan menumbuhkan rasa aman. Hubungan yang erat dengan kedua orang tua dalam tahun-tahun pertama kehidupannya akan berimplikasi pada hubungan yang baik dengan orang lain kelak ketika sudah dewasa. Bagi para ibu yang bisa mendampingi buah hatinya setiap saat, bagaimana bisa menjadikan pertemuan dengan sang anak bisa mempererat hubungan keduanya dan bukan malah sebaliknya pertemuan dengan sang anak hanya akan menimbulkan kebosanan menjadi sebuah tantangan yang di hadapi. Karena seringkali terjadi seorang ibu yang mempunyai lebih banyak waktu dengan sang buah hati malah tidak memanfaatkan waktunya dengan sang anak dengan baik dan sebaliknya seorang ibu yang mempunyai peran di ranah publik justru bisa memberikan waktunya secara berkualitas dengan sang anak.

  1. Kebutuhan akan rasa aman.

Seorang anak membutuhkan lingkunga yang menjamin perasaan amannya. Lingkungan yang selalu berubah dan tidak stabil akan sangat berbahaya bagi perkembangan emosi bayi. Pengasuh yang sering berganti-ganti dan kurang memahami kebutuhan anak tentang rasa aman justru akan menjadi kendala bagi kestabilan emosi anak. Seorang anak yang tumbuh dengan emosi yang tidak stabil dan meledak-ledak merupakan bibit bagi munculnua moral yang kurang baik.

  1. Kebutuhan akan stimulasi fisik dan mental

Sikap orang tua yang menerima anaknya dengan kata-kata cinta dan kasih sayang, dorongan, pujian, ciuman, elusan di kepala, pelukan dan kontak mata membuat anak merasa disayang, dilindungi, dianggap berharga dan akan membentuk lepribadian pro social, percaya diri dan mandiri namun sangat peduli kepada lingkungannya.


[1] http://rinyyunita.wordpress.com/2009/01/25/kecerdasan-emosi/

[2] http://www.fedus.org/download/kecerdasanemosi.pdf

[3] Ibid.,

[4] Miftahul Jinnan, Aku Wariskan Moral bagi anakku, (Surabaya: Fillah Press, 2008), hal 54-57

About these ads

Entry Filed under: Parenting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Halaman

Kategori

Kalender

Desember 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: